"Melanggar Sinyal, Tewas Disambar Kereta", begitulah bunyi headline sebuah koran ternama di Kota Bandung. Gue masih tidak percaya, kenapa orang banyak masih percaya bahwa si korban kecelakaan, seorang pramugara maskapai penerbangan, tewas seketika. Padahal, menurut kesaksian Pak Saleh kemaren - yang gue rekam di BB dan masih tersimpan sampai sekarang - si pramugara itu hanya mengalami patah tangan dan kaki, dan kini dirawat di Rumah Sakit Rajawali, dekat dengan PJL Andir.
Singkat cerita, gue pun kembali bertemu dengan Ben. Dia pun menanyakan perihal obrolan gue dengan Pak Saleh kemarin sore.
"Bagaimana kondisi korban?" tanya Ben.
"Enggak tewas koq, sekarang lagi dirawat di Rajawali," jawabku.
"Lho, tapi di koran katanya tewas?" tanya Ben, yang kali ini tidak percaya.
Gue pun menjadi kebingungan, mana yang harus dipercaya. Apakah Pak Saleh, yang adalah saksi mata langsung dari kejadian tersebut, atau media massa, yang (maaf) hanya bertugas meliput apa yang terjadi. Ditambah penuturan guru Bahasa Indonesia saat dia masuk kelas. Dari gaya berbicaranya, sangat dapat dipastikan bahwa si pramugara - yang konon adalah teman dekatnya - tewas seketika saat dicium lokomotif KA Argo Parahyangan.
Beruntung sekali, hari ini kami pulang cepat, entah karena alasan apa. Gue pun langsung meluncur ke TKP, kali ini menggunakan motor. Alangkah kagetnya gue, ketika di tengah perjalanan gue baru sadar bahwa gue saat itu hanya memakai topi, dan bukan helm. Tapi, jam sudah menunjukkan pukul 11:10, dan gue ingin secepatnya tiba di PJL, agar tidak ketinggalan moment memotret KA Argo Parahyangan yang bakal lewat jam 11:30 lebih sedikit. Lagipula, bensin di reservoir menunjukkan sisa sedikit lagi, tidak cukup apabila gue kembali ke sekolah untuk mengambil helm. Maka, gue memutuskan untuk melanjutkan perjalanan melewati jalan tikus agar tidak ditilang polisi, plus mengurangi kecepatan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Tak lama berselang, hujan pun turun. Guyurannya pun tidak kira-kira, langsung sangat deras. Sebelum gue berhasil menemukan tempat berteduh, badan gue sudah keburu basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gue pun memutuskan untuk terus menerobos hujan yang sangat deras, berbeda dengan pengendara motor lainnya yang memilih berteduh. Ternyata, bukan Cuma gue aja yang nekat menerobos derasnya hujan siang itu. Ada juga sekelompok bocah berseragam putih merah yang terlihat bersenang-senang diguyur hujan lebat. Dan bukan cuma satu kelompok, tetapi banyak sekali, dan semuanya laki-laki. Gue pun berhenti sejenak untuk memotret moment tersebut. Setelah selesai memotret, gue kembali melanjutkan perjalanan.
Singkat kata, pukul 11:30 tepat gue tiba di PJL Andir. Alangkah kagetnya ketika orang yang gue temui di dalam pos kecil bukanlah Pak Saleh, yang dinas hari itu, tetapi seorang bocah berseragam putih-biru tua, yang sama basah kuyupnya dengan gue. Dia adalah Dede, sesama railfan anak Bandung.
"Lho, De? Ngapain di sini?" tanyaku.
"Pulang cepet," jawab Dede. "Lu juga ngapain, ngebolos ya?"
"Enak aja, gue juga pulang cepet," jawabku.
Tiba-tiba terdengar lonceng penanda akan ada kereta lewat, tetapi Pak Saleh tak kunjung datang. Melihat lokomotif yang semakin mendekat dari arah timur, kami pun menjadi panik. Ketika masinis membunyikan semboyan 35 sangat panjang, akhirnya...
"Pencet aja yang di tengah!" seru Dede panik.
"Yakin yang itu?" tanyaku.
"Udah, pencet aja!" seru Dede lagi, lebih keras dari yang tadi.
Dengan penuh ketidakpastian gue pun menekan tombol yang terletak di tengah-tengah meja kontrol...
Tuesday, May 03, 2011
Monday, May 02, 2011
The Real Pulitzer - chapter 1
Berhubung sedang ada masalah dengan data cerpen "Tour de Java 2", maka sebagai selingan akan saya upload dulu cerpen baru berjudul "The Real Pulitzer". Selamat menikmati!
Senin, 08 November 2010. Seperti hari kerja pada umumnya, ruas jalan Gunung Batu di persimpangan dengan pintu keluar Tol Pasteur pasti dipadati kendaraan, baik itu motor, mobil, bahkan terkadang kendaraan yang lebih besar.
Sambil menunggu terurainya kemacetan, gue pun mengambil BB baruku dan ingin membuka forum semboyan 35 sambil menunggu lampu berubah hijau. Tahu-tahu Ben mengirimku sebuah pesan lewat BBM. Isinya sungguh mengejutkan...
ben_010993: bro, gw kejebak macet nih di andir, katanya ada motor ditabrak kereta...
"Beneran nih?" pikirku, yang langsung gue kirim balik kepada Ben...
bobby_cepe: bneran tuh, keretanya gopar ya?
Tak berapa lama muncul BBM balasan dari Andir...
ben_010993: maybe... kliatannya cuma strip bisnis, bisa aja krd pake k2 gopar
Bener-bener gue masih ga percaya dengan berita ini. Tapi, lampu sudah berubah jadi hijau, gue pun harus kembali mengendarai mobil gue
bobby_cepe: ywd, ntar diomongin di skul aja, gw mo jalan dulu
Singkat kata, jam 6:35 gue tiba di sekolah. Tau-tau, di parkiran telah menunggu sesosok siswa, yang wajahnya tidak lagi asing buat gue.
"Lama banget sih?" tanya Ben. "Gue aja yang kehalang kereta bisa nyampe lebih cepet."
"Biasa, macet di Pasteur," jawabku singkat. "Ada fotonya ga tadi?"
"Ini, cuma ada dikit," jawab Ben sambil mengeluarkan BB-nya. "Sorry kalo burem, soalnya buru-buru disuruh jalan ama polisi."
"Ga takut ditilang?" tanya gue.
"Kan gue dianterin bareng dede," jawab Ben. "Yuk, sambil jalan!"
Kami pun mulai berjalan menuju lantai 3, tempat kelas kami berada. Di perjalanan, gue ga melepaskan pandangan dari hadapan layar BB Ben, yang memperlihatkan foto-foto saat dia melintas di PJL Andir, lokasi di mana ada sebuah sepeda motor yang tertabrak kereta, kemungkinan KA Argo Parahyangan tujuan Jakarta. Tiba-tiba, sebuah pertanyaan muncul di pikiranku...
"Trus orang yang ditabrak, gimana?" tanyaku.
"Katanya mati," jawab Ben datar.
"Yakin mati?" tanyaku masih tidak percaya.
"Ya iyalah, naik mobil aja mati, apalagi naik motor," jawab Ben, kali ini dengan nada yang dapat dipercaya.
Memang benar, lewat foto terlihat jelas motor yang ditabrak sudah hancur tak berbentuk. Tapi janggalnya, kalau memang tewas, tidak ada foto yang menunjukkan mayat korban, minimal ditutup terpal. Apa hanya terluka saja, dan sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat, mungkin Rajawali yang paling dekat?
"Ah entar gue coba tanya petugas PJL-nya, kebetulan tetangga gue," jawabku.
"Siapa, Pak Saleh ya?" tanya Ben.
"Iya, beliau kan harusnya belum ganti shift tadi pagi," jawabku.
Maka gue pun tidak sabar menunggu berakhirnya KBM hari itu. Setelah selesai, gue langsung meluncur ke rumah dengan mobil. Setelah selesai makan dan ganti baju, gue coba berkunjung ke rumah Pak Saleh, penjaga PJL Andir, yang tinggal persis di depan rumah gue. Akhirnya gue diterima oleh Pak Saleh sendiri, yang, setelah gue tanyakan perihal kejadian tadi pagi, menjelaskan detail dari kecelakaan tersebut.
Senin, 08 November 2010. Seperti hari kerja pada umumnya, ruas jalan Gunung Batu di persimpangan dengan pintu keluar Tol Pasteur pasti dipadati kendaraan, baik itu motor, mobil, bahkan terkadang kendaraan yang lebih besar.
Sambil menunggu terurainya kemacetan, gue pun mengambil BB baruku dan ingin membuka forum semboyan 35 sambil menunggu lampu berubah hijau. Tahu-tahu Ben mengirimku sebuah pesan lewat BBM. Isinya sungguh mengejutkan...
ben_010993: bro, gw kejebak macet nih di andir, katanya ada motor ditabrak kereta...
"Beneran nih?" pikirku, yang langsung gue kirim balik kepada Ben...
bobby_cepe: bneran tuh, keretanya gopar ya?
Tak berapa lama muncul BBM balasan dari Andir...
ben_010993: maybe... kliatannya cuma strip bisnis, bisa aja krd pake k2 gopar
Bener-bener gue masih ga percaya dengan berita ini. Tapi, lampu sudah berubah jadi hijau, gue pun harus kembali mengendarai mobil gue
bobby_cepe: ywd, ntar diomongin di skul aja, gw mo jalan dulu
Singkat kata, jam 6:35 gue tiba di sekolah. Tau-tau, di parkiran telah menunggu sesosok siswa, yang wajahnya tidak lagi asing buat gue.
"Lama banget sih?" tanya Ben. "Gue aja yang kehalang kereta bisa nyampe lebih cepet."
"Biasa, macet di Pasteur," jawabku singkat. "Ada fotonya ga tadi?"
"Ini, cuma ada dikit," jawab Ben sambil mengeluarkan BB-nya. "Sorry kalo burem, soalnya buru-buru disuruh jalan ama polisi."
"Ga takut ditilang?" tanya gue.
"Kan gue dianterin bareng dede," jawab Ben. "Yuk, sambil jalan!"
Kami pun mulai berjalan menuju lantai 3, tempat kelas kami berada. Di perjalanan, gue ga melepaskan pandangan dari hadapan layar BB Ben, yang memperlihatkan foto-foto saat dia melintas di PJL Andir, lokasi di mana ada sebuah sepeda motor yang tertabrak kereta, kemungkinan KA Argo Parahyangan tujuan Jakarta. Tiba-tiba, sebuah pertanyaan muncul di pikiranku...
"Trus orang yang ditabrak, gimana?" tanyaku.
"Katanya mati," jawab Ben datar.
"Yakin mati?" tanyaku masih tidak percaya.
"Ya iyalah, naik mobil aja mati, apalagi naik motor," jawab Ben, kali ini dengan nada yang dapat dipercaya.
Memang benar, lewat foto terlihat jelas motor yang ditabrak sudah hancur tak berbentuk. Tapi janggalnya, kalau memang tewas, tidak ada foto yang menunjukkan mayat korban, minimal ditutup terpal. Apa hanya terluka saja, dan sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat, mungkin Rajawali yang paling dekat?
"Ah entar gue coba tanya petugas PJL-nya, kebetulan tetangga gue," jawabku.
"Siapa, Pak Saleh ya?" tanya Ben.
"Iya, beliau kan harusnya belum ganti shift tadi pagi," jawabku.
Maka gue pun tidak sabar menunggu berakhirnya KBM hari itu. Setelah selesai, gue langsung meluncur ke rumah dengan mobil. Setelah selesai makan dan ganti baju, gue coba berkunjung ke rumah Pak Saleh, penjaga PJL Andir, yang tinggal persis di depan rumah gue. Akhirnya gue diterima oleh Pak Saleh sendiri, yang, setelah gue tanyakan perihal kejadian tadi pagi, menjelaskan detail dari kecelakaan tersebut.
Wednesday, March 30, 2011
Tour de Java 2 - chapter 2
Chapter 2
Tak terasa sudah jam 10 kurang 5 menit. Saat itu kereta akan memasuki Stasiun Purwakarta. Gue pun berjalan ke bordes dengan membawa kamera andalanku, sebuah DSLR. Samar-samar terlihat nyala lampu sebuah lokomotif. Gue pun bersiap-siap untuk memotret benda yang memancarkan sinar yang menembus gelapnya malam. Selidik punya selidik, ternyata itu adalah CC 203 11, dinas kereta Argo Parahyangan terakhir dari Jakarta. Setelah berhenti 5 menit, yang duluan diberangkatkan adalah KA Argo Parahyangan, diikuti keberangkatan KA Harina. Dari kejauhan gue melihat ke belakang, Stasiun Purwakarta kembali sepi. Tahu-tahu, muncul sesosok pria di bordes. Ternyata Pak Anto, hendak ke toilet…
“Bobby? Lagi ngapain?” tanya Pak Anto.
“Enggak, Cuma lagi ngeliatin pas tadi kereta masuk Purwakarta,” jawabku.
“Oh begitu. Ya sudah, saya ke toilet dulu,” lanjutnya.
Maka gue kembali ke tempat dudukku, sedang Pak Anto pergi ke toilet. Di dalam, ternyata Ben kembali terbangun…
“Lu dari mana?” tanya Ben setengah mengantuk.
“Dari bordes. Kenapa?” tanyaku balik.
“Udah nyampe mana?” tanya Ben lagi.
“Baru lewat Purwakarta,” jawabku. “Bentar lagi nyampe Cikampek?”
“Ah masa bentar?” tanya Ben.
“Hehe, setengah jam palingan,” jawabku. “Entar mo ikut motret pas lokonya pindah posisi?”
“Boleh aja,” jawabnya.
Maka gue pun duduk sebentar, melihat hasil foto tadi, lalu menyimpannya, karena ingin pergi ke toilet. Tahu-tahu, di bordes Pak Anto lagi bercakap-cakap dengan seseorang.
“Ada apa Bobby?” tanyanya yang telah selesai berbicara lewat HP.
“Oh, cuma mo ke toilet,” jawabku.
Maka gue pun masuk ke dalam toilet, dan Pak Anto kembali ke tempat duduknya. Setelah beres dari toilet, gue kembali ke tempatku. Tahu-tahu kereta berbelok ke kiri dan mengurangi kecepatan…
“Udah nyampe Cikampek ya?” tanya Ben.
“Yup. Mo turun ga nih?” kataku. “Ga bakal ditinggal koq.”
Maka, seberhentinya kereta, kami membuka pintu gerbong paling belakang – nantinya bakal jadi paling depan – lalu memotret keadaan di stasiun malam itu. Tak berselang lama, lokomotif sudah berada di depan gerbong kami. Kami kembali naik untuk memotret moment pemasangan coupler lokomotif dari atas, karena di sisi samping lok berkumpul staff yang akan membantu pemasangan coupler. Sekarang posisi CC 204 11 sudah shorthood. Setelah selesai, 5 menit kemudian kereta kembali diberangkatkan.
Tuesday, March 29, 2011
Tour de Java 2 - chapter 1
Ini cerpen (sebenarnya hampir mendekati cerita panjang) buatan saya, mohon maaf apabila ada kesamaan nama dan tempat. Cerita hanyalah karangan fiksi belaka.
Selamat menikmati!
______________________________________________________________________
Selamat menikmati!
______________________________________________________________________
Minggu, 14 Maret 2010. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi justru emplasemen utara Stasiun Bandung dipenuhi sekelompok anak SMA. Belum ditambah gelombang penumpang KA Argo Wilis yang baru tiba dari Surabaya, makin bertambah penuhlah stasiun tersibuk di Parijs van Java ini. Beruntung saja, penumpang KA Lodaya Malam telah diberangkatkan menuju Solo, kalo tidak makin penuhlah stasiun ini.
Melongok ke arah barat, terlihat 2 rangkaian kereta. Di jalur 5 ada KA Argo Parahyangan tujuan Jakarta, pemberangkatan terakhir dari Bandung 5 menit kemudian, dan di jalur 6 ada KA Harina tujuan Semarang, berangkat pukul 20:30. Itulah KA yang akan gue dan temen-temen – rombongan anak SMA tadi – bakal tumpangi ke Surabaya.
Lho, kenapa ga naik Turangga? Atau yang lain? Soalnya tujuan akhir kita bukan Surabaya, tapi Bojonegoro. Itupun masih harus melakukan perjalanan 30 menit dengan mobil ke suatu daerah pedesaan diantara dua kota besar itu. Kalo naik Turangga emang lebih cepat, tapi butuh transportasi lain ke Bojonegoro, yang setelah dihitung-hitung jadi lebih mahal ketimbang naik Harina lalu nyambung Rajawali sampe Bojonegoro.
Jam 20:05, terdengar jelas suara semboyan 35 menandakan sebuah kereta akan diberangkatkan.
“Kereta kitakah itu?” Tanya salah seorang guru pembimbing, Pak Anto.
“Bukan, Pak. Itu Argo Parahyangan,” jawabku. “Kereta kita berangkat setengah sembilan.”
“Bobby gitu lho, pasti tahu kalo ditanya soal kereta!” celetuk sahabatku Ben, yang berdiri di sampingku.
“Makanya saya minta tolong dia urusin kereta buat pergi live-in,” kata Pak Anto lagi.
Gimana enggak? Gue adalah orang yang paling tahu soal kereta diantara teman seangkatan gue. Itulah ciri seorang penggemar kereta api, railfan kata orang bule. Layaknya seorang filatelis yang pasti tau soal segala sesuatu di balik panggung persuratan, seorang railfan pun tahu seluk beluk perkeretaapian, mulai dari sejarah, kelas-kelas gerbong, semboyan-semboyan, sampai pada spesifikasi terperinci sebuah lokomotif, misalnya. Dan, itupun hanya orang-orang tertentu yang sudah menguasai semuanya. Katakanlah para professor perkeretaapian. Dan gue belum mencapai tingkatan itu. Tapi, setidaknya, lewat hal “kecil” ini gue berhasil membuat beberapa temen terjangkit “virus” railfan ini, termasuk Ben sahabatku.
Back to Stasiun Bandung, singkat cerita kamipun bergerak menuju rangkaian Harina di jalur 6. Kami mendapat tempat di gerbong 1 dan 2, di bagian belakang rangkaian saat itu. Ternyata itu adalah gerbong tambahan, terlihat dari kode gerbong: K1-98803 BD sebagai Eksekutif 1 dan K1-65801 BD sebagai Eksekutif 2. Kelas gue mendapat jatah kursi di gerbong 1. Gue pun mengambil kursi single di bagian belakang, nomor 13B, karena Ben duduk bareng pacarnya di 13 C-D.
Setelah membereskan barang – kira-kira pukul 20:15 – kami berdua meminta izin kepada Pak Anto, yang duduk di single seat depan – nomor 1C – untuk melihat-lihat kedepan. Setelah diizinkan, kami berjalan ke bagian depan rangkaian. Terlihat lokomotif yang akan dinas CC 204 11 SMC, posisi longhood. Berurutan di belakangnya ada gerbong barang, Eksekutif 6, 5, 4, gerbong makan, Eksekutif 3, 2, 1. Terlihat gerbong Eksekutif 3-6 juga hamper terisi penuh. Setelah puas mengamati, dan juga memotret, kami kembali ke gerbong 1. Tepat pukul 20:30, KA Harina memulai perjalanan panjangnya menuju Semarang.
Good bye Bandung, Semarang, we’re coming!
- TBC -
Saturday, March 05, 2011
Corat-coret di dinding...
Pastinya sudah ga asing lagi buat kita menemukan coretan di dinding toilet umum, baik itu di mall, stasiun, rumah sakit, dll. Mulai dari yang berisi tanggal seseorang “resmi” berpacaran dengan pasangannya, nomor telepon “customer service” yang kadang ga jelas apa tujuannya, umpatan yang membawa nama Canis domesticus dalam Bahasa Indonesia, sampai juga tulisan yang dibuat tanpa tujuan apapun...
Tapi, suatu ketika, ada “watermark” yang bikin gue cukup bingung.
Stasiun Bandung, 04 Maret 2011. Sambil menunggu kedatangan KA Argo Parahyangan (GoPar) 24 dari Jakarta sekitar jam 3, gue pergi ke toilet di sisi barat stasiun, belakangnya Hokben, untuk mengganti baju. Ketika menutup pintu toilet, gue “disambut” dengan “watermark” yang berbunyi “I’m Railfans”.
Entah si penulis beneran railfan atau bukan, tapi tumben juga ada railfan yang ikut-ikutan “membubuhkan tanda tangan” di dinding toilet. Padahal, setahu gue, biasanya yang namanya railfan itu bakal menjaga keindahan benda-benda yang berkaitan dengan kereta dan asesorisnya, termasuk toilet stasiun...
BTT, jujur saja, gue cukup terganggu dengan kehadiran “watermark-watermark” yang “menghiasi” dinding toilet yang biasanya emang hanya didominasi 1 warna atau tegel putih yang tidak mudah lapuk terciprat ataupun tersiram air. Seakan menimbulkan kesan kalo toiletnya ga pernah dibersihin, walau, sebenernya, kakusnya terlihat bersih dan tidak tercium aroma “khas” toilet yang mengganggu indera penciuman manusia.
Adakah cara menghilangkan “kesenian” macam corat-coret di dinding toilet seperti ini?
Subscribe to:
Posts (Atom)
