Tuesday, March 29, 2011

Tour de Java 2 - chapter 1

Ini cerpen (sebenarnya hampir mendekati cerita panjang) buatan saya, mohon maaf apabila ada kesamaan nama dan tempat. Cerita hanyalah karangan fiksi belaka.

Selamat menikmati!

______________________________________________________________________


Minggu, 14 Maret 2010. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi justru emplasemen utara Stasiun Bandung dipenuhi sekelompok anak SMA. Belum ditambah gelombang penumpang KA Argo Wilis yang baru tiba dari Surabaya, makin bertambah penuhlah stasiun tersibuk di Parijs van Java ini. Beruntung saja, penumpang KA Lodaya Malam telah diberangkatkan menuju Solo, kalo tidak makin penuhlah stasiun ini.

Melongok ke arah barat, terlihat 2 rangkaian kereta. Di jalur 5 ada KA Argo Parahyangan tujuan Jakarta, pemberangkatan terakhir dari Bandung 5 menit kemudian, dan di jalur 6 ada KA Harina tujuan Semarang, berangkat pukul 20:30. Itulah KA yang akan gue dan temen-temen – rombongan anak SMA tadi – bakal tumpangi ke Surabaya.

Lho, kenapa ga naik Turangga? Atau yang lain? Soalnya tujuan akhir kita bukan Surabaya, tapi Bojonegoro. Itupun masih harus melakukan perjalanan 30 menit dengan mobil ke suatu daerah pedesaan diantara dua kota besar itu. Kalo naik Turangga emang lebih cepat, tapi butuh transportasi lain ke Bojonegoro, yang setelah dihitung-hitung jadi lebih mahal ketimbang naik Harina lalu nyambung Rajawali sampe Bojonegoro.

Jam 20:05, terdengar jelas suara semboyan 35 menandakan sebuah kereta akan diberangkatkan.

“Kereta kitakah itu?” Tanya salah seorang guru pembimbing, Pak Anto.
“Bukan, Pak. Itu Argo Parahyangan,” jawabku. “Kereta kita berangkat setengah sembilan.”
“Bobby gitu lho, pasti tahu kalo ditanya soal kereta!” celetuk sahabatku Ben, yang berdiri di sampingku.
“Makanya saya minta tolong dia urusin kereta buat pergi live-in,” kata Pak Anto lagi.

Gimana enggak? Gue adalah orang yang paling tahu soal kereta diantara teman seangkatan gue. Itulah ciri seorang penggemar kereta api, railfan kata orang bule. Layaknya seorang filatelis yang pasti tau soal segala sesuatu di balik panggung persuratan, seorang railfan pun tahu seluk beluk perkeretaapian, mulai dari sejarah, kelas-kelas gerbong, semboyan-semboyan, sampai pada spesifikasi terperinci sebuah lokomotif, misalnya. Dan, itupun hanya orang-orang tertentu yang sudah menguasai semuanya. Katakanlah para professor perkeretaapian. Dan gue belum mencapai tingkatan itu. Tapi, setidaknya, lewat hal “kecil” ini gue berhasil membuat beberapa temen terjangkit “virus” railfan ini, termasuk Ben sahabatku.

Back to Stasiun Bandung, singkat cerita kamipun bergerak menuju rangkaian Harina di jalur 6. Kami mendapat tempat di gerbong 1 dan 2, di bagian belakang rangkaian saat itu. Ternyata itu adalah gerbong tambahan, terlihat dari kode gerbong: K1-98803 BD sebagai Eksekutif 1 dan K1-65801 BD sebagai Eksekutif 2. Kelas gue mendapat jatah kursi di gerbong 1. Gue pun mengambil kursi single di bagian belakang, nomor 13B, karena Ben duduk bareng pacarnya di 13 C-D.

Setelah membereskan barang – kira-kira pukul 20:15 – kami berdua meminta izin kepada Pak Anto, yang duduk di single seat depan – nomor 1C – untuk melihat-lihat kedepan. Setelah diizinkan, kami berjalan ke bagian depan rangkaian. Terlihat lokomotif yang akan dinas CC 204 11 SMC, posisi longhood. Berurutan di belakangnya ada gerbong barang, Eksekutif 6, 5, 4, gerbong makan, Eksekutif 3, 2, 1. Terlihat gerbong Eksekutif 3-6 juga hamper terisi penuh. Setelah puas mengamati, dan juga memotret, kami kembali ke gerbong 1. Tepat pukul 20:30, KA Harina memulai perjalanan panjangnya menuju Semarang.

Good bye Bandung, Semarang, we’re coming!

- TBC -

Saturday, March 05, 2011

Corat-coret di dinding...


Pastinya sudah ga asing lagi buat kita menemukan coretan di dinding toilet umum, baik itu di mall, stasiun, rumah sakit, dll. Mulai dari yang berisi tanggal seseorang “resmi” berpacaran dengan pasangannya, nomor telepon “customer service” yang kadang ga jelas apa tujuannya, umpatan yang membawa nama Canis domesticus dalam Bahasa Indonesia, sampai juga tulisan yang dibuat tanpa tujuan apapun...

Tapi, suatu ketika, ada “watermark” yang bikin gue cukup bingung.

Stasiun Bandung, 04 Maret 2011. Sambil menunggu kedatangan KA Argo Parahyangan (GoPar) 24 dari Jakarta sekitar jam 3, gue pergi ke toilet di sisi barat stasiun, belakangnya Hokben, untuk mengganti baju. Ketika menutup pintu toilet, gue “disambut” dengan “watermark” yang berbunyi “I’m Railfans”.


Entah si penulis beneran railfan atau bukan, tapi tumben juga ada railfan yang ikut-ikutan “membubuhkan tanda tangan” di dinding toilet. Padahal, setahu gue, biasanya yang namanya railfan itu bakal menjaga keindahan benda-benda yang berkaitan dengan kereta dan asesorisnya, termasuk toilet stasiun...

BTT, jujur saja, gue cukup terganggu dengan kehadiran “watermark-watermark” yang “menghiasi” dinding toilet yang biasanya emang hanya didominasi 1 warna atau tegel putih yang tidak mudah lapuk terciprat ataupun tersiram air. Seakan menimbulkan kesan kalo toiletnya ga pernah dibersihin, walau, sebenernya, kakusnya terlihat bersih dan tidak tercium aroma “khas” toilet yang mengganggu indera penciuman manusia.

Adakah cara menghilangkan “kesenian” macam corat-coret di dinding toilet seperti ini?

Sunday, February 27, 2011

Good bye, Jakarta, I'm back, Bandung!

Kalo ada trip report pas pergi liburan, pasti ada juga trip report pas pulangnya...

Saturday, Feb 26, 2011. 10:35 PM

Gue dan keluarga udah siap mo pulang ke Bandung. Tapi tiba-tiba ada kabar kalo ban belakang mobil kempes, jadi harus diganti dulu. Trus biar ada cadangan selama perjalanan, ban yang kempes ditambal dulu...

Singkat kata, jam 10:47 PM, ban serep sudah terpasang dan mobil berangkat menuju tempat tambal ban...

11:08 PM, mobil sudah balik dari tambal ban, siap untuk memulai perjalanan panjang (lagi) menuju Bandung...

11:16 PM, mobil kembali melaju menuju Bandung. Au revoir, Auf wiedersehen, Good bye Jakarta!

11:26 PM, masuk GT Kuningan 2 (Lingkar Dalam), bayar Rp. 6.500,-

11:31 PM, lewat batas Tol Lingkar Dalam-Tol Cikampek

11:37 PM, GT Pd. Gede Timur, ambil tiket

Sunday, Feb 27, 2011.

12:00 AM, masih di KM 42. Disini gue udah mulai ngantuk dan sempat tertidur sebentar...

12:17 AM, masuk Tol Purbaleunyi, KM 67+600

TIDUR...

01:03 AM, gue kembali terbangun dan, tau-taunya, udah nyampe di lampu merah sehabis GT Pasteur, Bandung...

Perempatan, yang tiap pagi dan sorenya selalu padat, mendadak sepi di jam pertama hari yang baru ini...

01:16 AM, tiba di tujuan, HOME SWEET HOME...

Semua tetangga sudah terlelap, hanya gue dan seisi mobil yang masih terjaga...

- FIN -

Saturday, February 26, 2011

Ke Jakarta...

Akhirnya beres pra-UN dan pra-US...

Hari ini gue langsung pulang karena ada acara keluarga di Jakarta. Senengnya bisa terbebas dari ujian dan bisa berlibur ke luar kota...

Singkat kata gue nyampe di rumah jam 1, langsung ganti baju pergi, makan siang, dan berangkat ke Jakarta jam 2...

Begini kurang lebih trip reportnya...

14:00 --> Berangkat menuju Jakarta
14:10 --> Mampir Borma Dakota, beli cemilan dan minuman buat di perjalanan
14:22 --> Masuk Gerbang Tol Pasteur
14:29 --> Isi bensin di KM 125, berangkat pukul 14:32
14:37 --> Bayar + tukar tiket di GT Padalarang Barat
14:45 --> Lewat Jembatan Cikubang, sayang pas lagi ga ada kereta lewat...
14:51 --> Lewat KM 100, TKP kecelakaan XTrans tanggal 22 Februari kemarin, mulai turun hujan...
15:00 --> Lewat KM 84, hujan mulai berhenti...
15:11 --> Sampai di Simpang Susun cabang ke Jakarta dengan ke Cikampek
15:47 --> KM 21, mulai kejebak macetnya Tol Cikampek...
16:12 --> Lepas Simpang Susun Cikunir, yang ke Pd. Gede Timur lancar jaya...
16:18 --> Sampai di GT Pd. Gede Timur, bayar tol Golongan I, Rp. 39.000,-
16:29 --> Masuk Tol Lingkar Dalam (GT Halim), bayar tiket Rp. 6.500,-
16:33 --> Keluar Tebet, "kehalang" bus gandeng Transjakarta Koridor IX Pinang Ranti - Pluit
16:38 --> Masih kejebak macet, udah 4 articulated bus dan 1 single bus lewat di jalur (busway)...
16:51 --> Sampai di tujuan...

Foto-foto sepanjang perjalanan sih ga banyak, tapi akan di-post belakangan, soalnya ini baru sempet post via HP...

Friday, February 25, 2011

Pra-UN II, hampir berakhir...

Hari Jumat, 25 Februari 2011... Beres pra-UN II Kimia dan pra-US Mandarin, tinggal tersisa pra-UN II Fisika dan pra-US Komputer.

Senangnya tau kalo udah mo beres, tapi pas denger nilainya udah bisa diliat di web sekolah, langsung dag-dig-dug lagi. Duh, berapa ya nilainya?

Pertama, Bahasa Indonesia. "Duh, kalo jelek kayaknya malu-maluin banget deh..." pikir gue. Pas dibuka, eh ternyata bagus, 78...

Kedua, Bahasa Inggris. Sama, pikir gue. Sebenernya yang ini belum dimasukin di web, jadi dateng ke gurunya.

Pas disodorin lembar nilainya, gue kaget, koq semuanya dibawah 60, yang notabene adalah KKM di sekolah gue. Ternyata, angka itu masih harus dibagi 6.

Gue buka kalkulator di HP, dan mulai ngitung...

55 / 6 = 9,1(6)!

Lega...

Ketiga, Kimia. Nah, ini yang bener-bener bikin gue dag-dig-dug. Kemaren pas pra I "cuma" dapet 5,4. Lulus sih buat UN, tapi US belum.

"Waduh, bahaya nih. Kalo lebih jelek, gimana ngomong di rumah?"

Ternyata, pas dibuka di web... Nilai 1: 54, Nilai 2: 72...

"Tujuh dua?" pikir gue terheran-heran. "Perasaan tadi cuma yakin bener 33 dari 50 soal deh, itu artinya paling bagus juga cuma 66..."

Beruntung banget gue, setidaknya nilai-nilai ini naikin mental gue buat lebih semangat biar nilai pra Fisika gue juga bagus...

Tapi, sekali lagi, nilai-nilai bagus ini tidak lepas dari semboyan "Ora et labora": Berdoa dan bekerja (baca: belajar).

OK deh, sekian dulu post buat hari ini...